MY WORDS
this site the web

Moccacino di Gerimis Sore (Part 1)


¤¤¤   Matahari Sore   ¤¤¤

Angin berhembus pelan menerbangkan dedaunan kering yang sudah meninggalkan rantingnya. Hawa dingin mulai terasa menembus kulit, tapi tak membuat seorang gadis yang duduk di bangku taman itu beranjak pergi. Angin memainkan ujung-ujung rambutnya yang panjang. Cahaya matahari sore memantul dari jepit rambut berwarna emas yang tersemat indah di poni kanannya. Sering kali tiap petang gadis itu terlihat duduk menikmati suasana matahari yang mulai tenggelam. Sambil terkadang membaca sebuah buku sampai matahari tak tampak lagi.

Di seberang tempat duduknya, beberapa lelaki baru datang dan duduk sejenak melepas lelah sambil bersenda gurau. Tampaknya mereka baru selesai bermain sepak bola terlihat dari kaus dan sepatu yang mereka pakai. Mereka antusias mendengarkan salah seorang temannya yang sedang bercerita kemudian semuanya tertawa. Gadis itu memerhatikan salah satu dari mereka, lelaki yang duduk di antara teman-temannya. Tiba-tiba gadis itu tersenyum melihat lelaki itu. Seakan menyadari kalau diperhatikan, lelaki itu menoleh ke arah gadis. Lelaki itu membalas senyumannya. Angin berdesir pelan. Keduanya tetap saling senyum, sampai salah seorang teman lelaki itu menarik lengan lelaki itu untuk diajaknya pulang.

Rona merah di langit mulai memudar dan lampu-lampu taman sudah berkedip menyala. Akhirnya gadis itu beranjak dari tempat duduknya. Dia berlalu dengan menenteng tas berwarna biru tua melewati jalan perumahan yang tidak terlalu ramai. Dia berjalan dengan malu-malu dan terkadang menatap langkah kakinya. Berfikir ada apa dengannya hari ini, kenapa ada sesuatu yang ganjil. Memasuki sebuah gerbang rumah yang tidak terlalu besar, gadis itu berlarian kecil menggapai pintu rumah dan hilang di dalamnya.

Malam itu langit cerah menemani gadis muda yang sedang berdiri di balik jendela kamarnya. Tangannya menggapai langit yang bertabur bintang, berharap dirinya bisa terbang dan menggapainya. Lalu gadis itu tersenyum sambil membalikkan badan menuju ranjangnya. Besok masih libur, beberapa hari lagi dia akan memasuki sekolah tinggi terkenal di kotanya. Di tahun pertamanya ini dia berharap semuanya akan berjalan dengan baik. 



buat Part 2-nya, ditunggu ya.. masih dalam proses. Hihihi.. ^.^v



0 komentar:

Posting Komentar

 

Words

The last, but not least. Sebuah akhir tapi bukan pengakhiran dan bukan pula yang terakhir.

Usage Policies